Berawal dari membaca thread di milis sehat yang rame membicarakan imunisasi, kok ya saiiya iseng banget chat sama jeng Vera nanyain imunisasi. Dari situlah ketauan kalo Bara waktunya imunisasi DPT ke 4  usia 18 bulan *dag dig duerrrrr* kalutlah diriku *lebay*. gmn nggak? secara 2 hari lagi tgl 12 november 2010 Bara udah genap 18 bulan. pertanyaannya “telat ga ya?”

setelah tanya ke berbagai sumber dan dr. Flora, Alhamdulillah masih toleransi telat 2 hari.

pertanyaan selanjutnya “pake tetract Hib ato Infanrix Hib?” huaaaaa

1. segi keoptimalan

2. segi biaya (mehong banget ya?)

kebetulan menemukan link ini : http://dr-anak.com/plus-minus-vaksin-kombinasi.html/comment-page-1#comment-1745

akhirnya saya copas disini ya, siapa tau berguna:

PLUS-MINUS VAKSIN KOMBINASI

Vaksin kombinasi sebenarnya bukan hal baru bagi kita. Kita mengenal ada vaksin DPT untuk menangkal penyakit difteri, pertusis, dan tetanus. Baru-baru ini, telah muncul vaksin kombinasi lain bernama Infanrix/HiB. Apakah vaksin kombinasi itu, dan sejauh mana plus-minusnya dijelaskan dalam tanya jawab dengan Prof. DR. dr. Sri Rezeki Hadinegoro, Sp.A(K)., dari RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta berikut ini. Beliau adalah Ketua Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia.
Apa itu vaksin kombinasi?

Vaksin kombinasi merupakan beberapa vaksin (antigen) yang digabung menjadi satu.

Negara mana saja yang sudah menerapkan vaksin kombinasi?

Di dunia penggunaan vaksin kombinasi sudah menjadi tren global yang tak bisa dicegah lagi kehadirannya. Persentasi penggunaan vaksin kombinasi yang paling banyak yaitu di Eropa dan Amerika. Di Asia, seperti Malaysia juga sudah lama diterapkan. Sedangkan Singapura telah menggunakan beberapa vaksin kombinasi seperti vaksin kombinasi DPaT/HiB, DpaT/Hepatitis B/Polio. Sedangkan di Indonesia sendiri, penggunaan vaksin kombinasi baru kira-kira 25 persen.

Mengapa vaksin-vaksin yang ada perlu dikombinasi?

Ketimbang 40 tahun ke belakang, pada era globalisasi ini, jumlah penyakit makin bertambah banyak sehingga kebutuhan akan vaksinasi pun semakin meningkat. Mau tak mau, jadwal suntikan dalam program imunisasi jadi lebih banyak. Di Indonesia, pemberian imunisasi wajib adalah BCG 1 kali, DPT-Polio 3 kali, campak 1 kali, dan hepatitis B 3 kali. Sedangkan vaksin anjuran antara lain MMR, tifus, cacar air, hepatitis A dan HiB. Berarti bayi hingga usia satu tahun perlu disuntik sebanyak 11 kali. Nah, untuk mempermudah atau menyederhanakan pemberian vaksin maka diciptakanlah vaksin kombinasi.

Apa saja vaksin kombinasi yang sudah tersedia?

Setelah ada vaksin DPT atau DPaT, MMR, DPT/Hepatitis B, vaksin kombinasi terbaru adalah gabungan antara vaksinasi DPaT dengan HiB yang disebut Infanrix/HiB. Vaksin kombinasi ini dapat memberikan perlindungan terhadap 4 jenis penyakit berbahaya pada bayi, yaitu difteri, pertusis, tetanus, dan penyakit-penyakit akibat HiB.

Vaksin Infanrix/HiB ini merupakan vaksin kombinasi yang sudah mendapatkan izin dari BP-POM sejak Februari tahun 2004 dan telah ada di pasaran sejak April 2004. Pemberian vaksinnya pun sesuai dengan jadwal imunisasi yang telah direkomendasikan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia.

Apa beda DPT dan DPaT?

Sebenarnya penyakit yang ditangkal sama yaitu difteri, pertusis dan tetanus. Hanya saja, vaksinasi DPT seringkali menimbulkan efek samping demam pada anak. Sedangkan vaksinasi DPaT, berkat kecanggihan teknologi kesehatan, dapat meminimalisasi risiko demam tersebut. Sampai sekarang, vaksin DPT tetap beredar di pasaran dan masih digunakan di sekolah, puskesmas, posyandu dan klinik praktik dokter. Sementara vaksin DPaT merupakan alternatif bagi bayi atau anak yang pernah menderita kejang demam, atau yang mempunyai penyakit saraf lainnya.

Mengapa vaksin DPaT harus berkombinasi dengan HiB dan bukan vaksin lainnya?

Karena vaksin DPaT mempunyai jadwal imunisasi primer yang hampir sama dengan jadwal imunisasi primer HiB. Vaksinasi DPaT pertama dilakukan pada bayi usia 2-4 bulan. Suntikan ke-2 di usia 3-5 bulan dan ketiga saat 4-6 bulan. Sedangkan jadwal imunisasi primer pertama untuk vaksin HiB adalah saat usia bayi 2 bulan, yang kedua di usia 3-4 bulan dan suntikan ketiga pada 4-6 bulan. Yang dimaksud vaksinasi primer adalah vaksinasi yang dilakukan di saat usia bayi kurang dari 12 bulan.

Bagaimana keamanan vaksin kombinasi?

Suatu vaksin dikatakan aman setelah melalui proses penelitian yang panjang. Begitu juga dengan vaksin kombinasi DPaT dan HiB. Penelitian tentang keamanan vaksin kombinasi sudah melalui proses selama 30 tahun lebih dan sudah terbukti aman diberikan kepada anak.

Apakah vaksin kombinasi mengandung thimerosal yang dicurigai sebagai penyebab autisme?

Vaksin Infanrix/HiB tidak mengandung thimerosal tapi mengandung zat pengawet 2-phenoksi-etanol agar tak terkontaminasi kuman. Sementara masa kedaluwarsa vaksin adalah dua tahun. Thimerosal sendiri merupakan suatu zat dari bahan merkuri yang dalam vaksin berfungsi mencegah pencemaran. Zat ini tak perlu ada pada vaksin yang dikemas untuk sekali pakai, dan juga tidak digunakan untuk jenis vaksin hidup karena cukup tahan lama. Kalau toh thimerosal digunakan pada suatu vaksin, kandungannya pun sangat kecil. Jadi risiko merkurinya pada manusia sangat jauh lebih kecil ketimbang pada makanan misalnya ikan laut yang tercemar. Walaupun demikian produsen vaksin tetap berupaya meniadakan thimerosal dalam vaksin atau menggantikan dengan zat lain, sesuai anjuran WHO.

Apa saja keuntungan bila menggunakan vaksin kombinasi?

1. Mengurangi jumlah suntikan. Suntikan vaksin DPaT dan HiB yang terpisah memerlukan 6 kali suntikan untuk imunisasi primer, nah dengan Infanrix/HiB hanya perlu 3 kali. Suntikan pertama saat usia bayi 2 bulan, suntikan kedua waktu usia 3-4 bulan, dan suntikan ketiga pada umur 4-6 bulan. Ini berarti mengurangi trauma kesakitan pada bayi.

2. Hemat waktu. Tiap kali anak diimunisasi orang tua tentu perlu meluangkan waktu untuk membawa anak ke dokter. Adanya vaksin kombinasi dapat menghemat waktu dan juga tenaga untuk datang ke dokter.

3. Hemat biaya. Harga vaksin kombinasi yang sekitar 285.000 rupiah ini mungkin terkesan lebih mahal ketimbang vaksin-vaksin tunggal. Namun kalau dihitung-hitung total biaya yang dikeluarkan untuk vaksin kombinasi akan lebih sedikit ketimbang vaksin DPaT dan vaksin HiB secara terpisah. Bukankah setiap kali datang untuk imunisasi ada biaya-biaya lain yang dikeluarkan. Misalnya, biaya transportasi, administrasi, dokter, dan biaya vaksin itu sendiri.

4. Efek samping lebih kecil. Perlu digarisbawahi penggunaan vaksin kombinasi DPaT-HiB tidak menjamin seratus persen bahwa anak tak akan mengalami demam. Namun kalaupun ada efek samping demam, persentasenya sedikit sekali. Demikian pula halnya dengan reaksi lokal yang terjadi seperti bengkak, kemerahan dan rasa nyeri pada bekas suntikan. Jadi secara umum, vaksin kombinasi DPaT-HiB memiliki efek samping yang jauh lebih rendah dibandingkan vaksin DPT dan HiB secara terpisah.

5. Risiko tertular penyakit berkurang. Pemberian imunisasi yang satu-satu akan mempersering membawa anak berkunjung ke rumah sakit atau dokter. Padahal di sana terdapat pasien dengan berbagai penyakit yang membuat anak berisiko tertular. Nah, dengan adanya vaksin kombinasi, kemungkinan itu jadi lebih kecil.

Andaikata saat usia 2 bulan seorang bayi sudah diimunisasi DPT, lalu di usia selanjutnya orang tua ingin mengimunisasi anaknya dengan vaksin kombinasi, apakah ini bisa dilakukan?

Boleh saja tak masalah. Begitupun sebaliknya. Tentunya orang tua sudah tahu mana yang lebih menguntungkan. Namun komunikasikan hal tersebut terlebih dulu dengan dokter yang ada.

Bagaimana efektivitas vaksin kombinasi?

Penelitian membuktikan, vaksin kombinasi DPaT-HiB menciptakan proteksi optimal terhadap difteri, pertusis, tetanus dan berbagai penyakit akibat bakteri HiB, yang sama baiknya dibandingkan vaksin DPaT dan HiB yang diberikan secara terpisah.

Memang, tingkat kekebalan vaksin kombinasi DPaT/HiB lebih rendah daripada vaksin DpaT dan HiB terpisah. Toh, bukan berarti tingkat kekebalan vaksin kombinasi tidak bagus. Vaksin kombinasi tetap memberikan kekebalan atau antibodi pada tubuh dalam ambang garis kekebalan tubuh yang sudah ditentukan. Jadi, vaksinasi kombinasi DPaT dan HiB cukup untuk mempertahankan kekebalan tubuh dan melindungi tubuh sampai 5 tahun.

4 PENYAKIT YANG DAPAT DITANGKAL VAKSIN KOMBINASI DPaT/HiB

Difteria

Merupakan penyakit akibat infeksi bakteri Corynebacterium diphteriae. Kuman tersebut masuk lewat hidung ke tenggorokan dan membuat semacam selaput yang makin lama melebar sehingga menyumbat jalan napas. Bahayanya, bakteri ini juga memproduksi racun (toksin) yang dapat menyebar ke seluruh organ tubuh seperti jantung dan sistem saraf. Pada kasus berat, kuman ini dapat menyumbat jalan napas. Difteria sangat menular dan menyerang anak-anak berusia di bawah 5 tahun. Penularannya terjadi melalui percikan ludah dari udara pernapasan penderita.

Pertusis atau Batuk Rejan

Disebut juga batuk seratus hari atau whooping cough. Penyebabnya adalah bakteri Bordetella pertussis. Bakteri ini menghasilkan racun (toksin) pada selaput lendir saluran napas yang merangsang pembentukan dahak yang banyak dan kental. Bayi sangat sulit mengeluarkan lendir ini sehingga berisiko meninggal karena tak bisa bernapas. Gejalanya, bayi kecil tampak biru dan kejang.

Pertusis dapat ditemukan pada semua usia. Separuhnya pada anak di bawah usia 2 tahun dan terutama pada bayi-bayi di bawah 6 bulan. Ditularkannya melalui percikan air liur atau udara pernapasan penderita. Pada banyak kasus, pertusis anak ditularkan oleh orang tuanya yang ternyata seorang pengidap (karier).

Tetanus

Penyebabnya bakteri Clostridium tetani yang ada di alam bebas terutama di tanah dan kotoran binatang. Tetanus sangat berbahaya jika mengenai bayi baru lahir. Biasanya terjadi saat pemotongan tali pusat dengan alat dan cara yang tidak steril.

Gejala tetanus adalah kejang-kejang dan kesulitan menelan. Pada bayi baru lahir tampak mulutnya yang mencucu, tidak dapat menetek, sehingga dapat mengakibatkan kematian. Untuk menekan angka penderita tetanus, ibu hamil perlu diberi vaksinasi suntikan TT dan para ibu juga perlu diajarkan bagaimana merawat tali pusat bayinya yang baru lahir dengan baik.

Meningitis

Penyebabnya adalah bakteri Haemophilus Influenzae tipe B yang sangat menular. Penularannya terjadi melalui udara dan kontak langsung dengan penderita. Gejalanya tidak spesifik. Penyakitnya hanya dapat diketahui setelah terjadi kerusakan pada selaput saluran pernapasan. Kerusakan tersebut ditandai dengan timbulnya demam, rinitis (peradangan selaput lendir hidung), sakit tenggorokan, batuk, lelah, nyeri otot dan kepala, muntah serta diare.

Anak balita terutama bayi paling berisiko tertular penyakit ini. Meski pasien bisa disembuhkan, kemungkinan besar ia akan mengalami gangguan pendengaran, gangguan mental bahkan gangguan otak.